header-logo.png
  • Tanggal :12 Juni 2026
  • Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Mengenal Filosofi & Makna Logo Baru Balai Taman Nasional Ujung Kulon

Simbol Perlindungan, Harmoni Alam, dan Kolaborasi Masyarakat.

 

Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) secara resmi memperkenalkan logo baru melalui Surat Keputusan Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Nomor : 390 Tahun 2024 tanggal 01 Oktober 2024 Tentang Logo Balai Taman Nasional Ujung Kulon, yang merepresentasikan identitas kawasan konservasi dunia sekaligus menggambarkan semangat perlindungan keanekaragaman hayati yang terintegrasi dengan pembangunan sosial masyarakat. Logo ini tidak hanya menjadi simbol visual, tetapi juga mengandung filosofi mendalam tentang peran TNUK sebagai benteng terakhir konservasi Badak Jawa dan penjaga kelestarian ekosistem yang lengkap dari daratan hingga lautan.

 

Simbol Perlindungan dan Konservasi Badak Jawa

Elemen utama pada logo baru TNUK adalah perisai segi lima yang melambangkan kekuatan, perlindungan, dan ketahanan. Bentuk perisai ini menggambarkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai benteng terakhir perlindungan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), salah satu mamalia paling langka di dunia yang kini hanya dapat ditemukan secara alami di kawasan Ujung Kulon.


Makna segi lima juga mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar pengelolaan kawasan konservasi yang mengedepankan keseimbangan antara perlindungan alam, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.


Di dalam logo tergambar Badak Jawa dewasa dan anak badak, yang merepresentasikan keberhasilan upaya konservasi serta harapan keberlanjutan populasi spesies ikonik Indonesia tersebut. Simbol ini juga menggambarkan keberadaan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) sebagai pusat studi dan pengembangbiakan terkendali Badak Jawa yang menjadi satu-satunya di dunia.


Menampilkan Keindahan dan Kekayaan Alam Ujung Kulon.

Logo baru ini menampilkan panorama khas Ujung Kulon yang terdiri dari bentang alam pegunungan, pesisir, hutan tropis, serta kawasan perairan yang menjadi habitat berbagai flora dan fauna penting.


Salah satu elemen penting yang ditampilkan adalah Pohon Kokoleceran, flora endemik khas Banten yang tumbuh alami di kawasan Ujung Kulon. Kehadiran pohon ini menjadi simbol identitas lokal sekaligus menegaskan pentingnya perlindungan spesies tumbuhan langka yang menjadi bagian dari kekayaan biodiversitas nasional.

 

Selain itu, ilustrasi hutan mangrove, terumbu karang, dan ekosistem laut menggambarkan kekayaan alam Ujung Kulon yang tidak hanya terkenal karena Badak Jawa, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki ekosistem lengkap mulai dari pegunungan, hutan dataran rendah, mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang.

 

Menggambarkan Luas dan Keutuhan Ekosistem

Logo juga menampilkan peta kawasan yang menunjukkan karakteristik wilayah Taman Nasional Ujung Kulon yang terdiri atas:

Daratan      : 61.357,46 hektare (±60%)

Lautan        : 44.337 hektare (±40%)

Total Luas Kawasan: 105.694,46 hektare


Komposisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan TNUK tidak hanya berfokus pada konservasi satwa daratan, tetapi juga perlindungan ekosistem pesisir dan laut yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan serta mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan.

 

Filosofi Lima Pagar Perlindungan

Salah satu ciri khas yang diangkat dalam logo baru adalah konsep “5 Program Pagar Perlindungan” yang menjadi pendekatan pengelolaan kawasan TNUK.

Kelima pagar tersebut meliputi:

1. Pagar Sosial

Mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kawasan melalui kemitraan konservasi, pemberdayaan kelompok masyarakat, dan penguatan nilai gotong royong.

2. Pagar Budaya

Melestarikan tradisi, kearifan lokal, dan nilai budaya masyarakat sekitar kawasan yang selaras dengan prinsip konservasi.

3. Pagar Kehidupan

Menjamin keberlanjutan fungsi ekologis kawasan sebagai sumber kehidupan bagi manusia maupun satwa liar.

4. Pagar Ekonomi

Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif berbasis konservasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.

5. Pagar Pendidikan

Membangun kesadaran dan pengetahuan konservasi melalui pendidikan lingkungan, penelitian, serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas.


Kelima pagar tersebut saling terhubung membentuk satu kesatuan yang menggambarkan bahwa keberhasilan konservasi hanya dapat tercapai melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan.

 

Filosofi Warna Logo

Logo baru TNUK menggunakan tiga warna utama yang memiliki makna khusus:

Warna Kuning Madu, Melambangkan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan, kemanfaatan sumber daya alam, serta kesejahteraan masyarakat.


Warna Hijau Hutan, Melambangkan kelestarian hutan, kesuburan alam, dan harapan akan keberlangsungan ekosistem yang sehat.


Warna Biru Laut, Melambangkan keteguhan, ketenangan, keluasan wawasan, serta kekayaan sumber daya laut yang menjadi bagian penting dari kawasan Ujung Kulon.


Identitas Baru untuk Semangat Konservasi Masa Depan.

Logo baru Balai Taman Nasional Ujung Kulon merupakan representasi visual dari komitmen menjaga kawasan konservasi yang menjadi Warisan Dunia UNESCO dan rumah terakhir Badak Jawa. Melalui simbol-simbol yang terkandung di dalamnya, logo ini menegaskan bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa dan habitat, tetapi juga membangun hubungan harmonis antara manusia, budaya, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.

Dengan semangat 5 Pagar Perlindungan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon terus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam demi generasi sekarang dan masa depan.


"Menjaga Ujung Kulon, Menjaga Warisan Dunia, Menjaga Masa Depan."

Copyright© 2026 Balai Taman Nasional Ujung Kulon. All right reserved.