Tingkatkan Pengelolaan Kawasan, Kepala Balai TNUK Hadiri World Heritage Site Managers' Forum di Busan
Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Ardi Andono, menghadiri 8th World Heritage Site Managers' Forum (WHSMF)yang diselenggarakan di Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO), Republik Korea pada 16–23 Juli 2026, sebagai bagian dari rangkaian Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO yang berlangsung pada 19–29 Juli 2026. Forum bertema "Connection and Communication: Participatory Approaches to Managing World Heritage" ini diikuti oleh 74 peserta dari 45 negara yang mewakili 66 Situs Warisan Dunia UNESCO, sebagai wadah berbagi pengalaman, memperkuat jejaring, dan meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan warisan dunia.
Sebagai pengelola Taman Nasional Ujung Kulon, yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991, kehadiran Kepala Balai TNUK merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan melalui pembelajaran berbagai praktik terbaik (best practices) di tingkat internasional. Partisipasi Ardi Andono dalam forum ini mendapat dukungan dari mitra konservasi Taman Nasional Ujung Kulon, yaitu ALERT dan The EDGE, sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kapasitas pengelolaan Situs Warisan Dunia serta konservasi Badak Jawa.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon menegaskan bahwa konservasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) memerlukan kolaborasi internasional yang kuat serta jejaring kerja sama yang berkelanjutan. Sebagai spesies badak paling langka di dunia yang hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon, upaya pelestariannya membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, UNESCO, IUCN, lembaga penelitian, organisasi konservasi, perguruan tinggi, dan para pengelola Situs Warisan Dunia dari berbagai negara.
Melalui keikutsertaan dalam World Heritage Site Managers' Forum dan Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO, Balai Taman Nasional Ujung Kulon berharap dapat memperluas kerja sama internasional, memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman, serta mendorong penerapan pengelolaan kawasan yang lebih adaptif, inovatif, dan berbasis ilmu pengetahuan. Kolaborasi global tersebut diharapkan semakin memperkuat upaya pelestarian Taman Nasional Ujung Kulon beserta Badak Jawa sebagai salah satu warisan alam paling berharga di dunia.